Sabtu, 29 Oktober 2011

CERITA PENDEK, bersambung

Indahnya Dunia bersama Gadis

Cerita Pendek Hafara el Quds
Sore ini, di sebuah jalan dekat Internasional Garden yang terletak di kawasan Masakin Ustman terlihat lengang seperti biasanya. Mobil-mobil parkir dipinggir jalan menyerupai antrean yang tak menentu. Bangunan sekitar tampak menjulang menerobos langit biru. Tampak beberapa anak muda sedang bermain sepak bola di jalanan. Mereka asyik tanpa merasa terganggu dengan kendaraan yang lewat.
Angin musim semi juga semilir menggerakkan rambut siapa saja yang panjang terurai. Tak terkecuali.
Aku yang hanya mampu untuk mengingat seluruh bagian dari dirimu, sedih. Warna kesukaanmu, pizza spesial yang selalu kau buang setelah berhasil menghabiskan jamurnya, yang selalu lupa menaruh handphone (untungnya bisa di misscall), tapi kalau yang terlupa itu kacamata, kau uring-uringan. Apalagi kalau hobi menulismu minta bagian untuk diperhatikan, kau bisa seharian duduk mantengin laptop menghadap ke jendela. Dan aku selalu kau larang untuk mengerti dengan apa yang kau tulis. Semua memori tentangmu tersimpan apik di sudut sel otakku.
Honey, aku pergi sebentar dulu yah. Aku sayang kamu. Tulismu dalam secarik kertas yang kau tinggal di meja makan sesaat setelah aku terlelap.
Sekarang, kau telah pergi entah kemana. Dan aku akan kesulitan jika mencarimu, karena kuyakin kau tak punya rumah. Hidupmu yang sesuka hati akan membunuhmu. Sebenarnya, kurang apa aku ini. Setiap hari disaat kau masih terlelap, aku yang selalu membuatkan teh dan sarapan pagi untukmu. Segala perhatianku tercurah padamu. Aku serius menyayangimu. Perasaan ini mengalir apa adanya tanpa kubuat-buat. Karena memang beginilah adanya.
Kuakui, banyak waktu yang tersita untuk menyelesaikan studiku. Pagi-pagi sekali aku sudah harus ke kampus untuk menemui dosen yang jika siang sudah susah ditemui. Setelah jam makan malam aku baru bisa pulang, karena buku-buku wajib yang harus kucari dibeberapa perpustakaan, dan itu melelahkan. Tolong pahami aku. Jika kuliahku sudah tamat, aku akan selalu ada disisimu. Selalu sayang. Takkan ada yang sanggup memisahkan kita.
Lalu apa alasanmu meninggalkanku? Apa hanya karena aku pendatang. Toh kalau masalah wajah, kata orang, aku mirip tokoh Cleopatra di drama-drama stasion televisi lokal. Atau masakan buatanku tidak seperti seleramu? Padahal aku sudah perbanyak saos dan cuka, seperti spageti kesukaanmu. Atau bahasaku yang masih belepotan? Kalau boleh aku bilang, aku menghabiskan waktu dua tahun untuk ikut kursus di kawasan Tahrir dan mendapatkan nilai A. Semua itu aku lakukan agar kau mengerti bahwa aku pantas berada di sisimu.
Aku tak tahu dimana kamu sekarang. Terus terang sayang, hatiku pilu, sedih yang teramat sangat. Semoga kamu baik-baik saja. Aku hanya bisa tuk mengatakan pada bulan yang selalu bertelanjang kalau aku serius menyayangimu.
*****
Sore yang indah, di sebuah jalan dekat Internasional Garden yang terletak di kawasan Masakin Ustman terlihat lengang seperti biasanya. Mobil-mobil parkir dipinggir jalan menyerupai antrean yang tak menentu. Bangunan sekitar tampak menjulang menerobos langit biru. Tampak beberapa anak muda sedang bermain sepak bola dijalanan. Mereka asyik tanpa merasa terganggu dengan kendaraan yang lewat. Angin musim semi juga semilir menggerakkan rambut siapa saja yang panjang terurai. Tak terkecuali.
Aku menyewa sebuah flat mungil berkamar satu dan yang penting cukup nyaman didekat Internasional Garden agar dekat denganmu. Dan agar aku mudah untuk mengulang masa-masa kebersamaan kita. Kepergianku bukanlah alasan untuk meninggalkanmu. Tapi sebuah usaha pendewasaan. Bukan belajar dewasa akan tetapi memasuki masa dewasa itu sendiri.
Jam menunjukkan pukul lima sore yang berarti sebentar lagi matahari akan terbenam. Kata banyak orang, suasana alam yang terindah dalam sehari terletak pada senja. Kalau menurutku itu hanya berlaku pada orang yang sedang kasmaran saja, tidak setiap orang merasakannya. Aku yakin itu.
Bel rumahku berbunyi, pertanda ada seseorang yang memencetnya. Aku yakin itu pengantar pizza yang satu jam lalu aku pesan. Pizza spesial mushroom dengan jamur lebih banyak. Sungguh nikmat mengalahkan kerlingan gadis manapun. Setelah membayar dan memberikan sedikit tip, pintu kututup kembali. Duduk menghadap jendela sambil sesekali menengok kearah luar, lalu kubuka perlahan kotak yang bertuliskan Pizza King berwarna hijau. Pemandangan yang akan membuat penikmatnya meneteskan air liur. Pizza berukuran medium dengan jamur yang bertaburan tanpa malu. Inilah yang akan menjadi teman menulisku.
Next

Jumat, 28 Oktober 2011










TP Penguat Emiter Ditanahkan 1. a. Emiter (E) adalah bahan semikonduktor yg di beri doping sangat tinggi. Emiter sering d sebut penguat yg berfungsi sebagai sumber pengangkut bergerak. b. Kolektor (C) adalah bahan semikonduktor yg d beri doping sedang. Kolektor sering d sebut pengumpul yg berfungsi sebagai penarik pengangkut yang sedang melakukan kerja. c. Basis (B) adalah bahan semikonduktor yg d beri doping sangat rendah. Basis sering d sebut landasan atau dasar yg berfungsi sebagai tempat di rampungkannya control aliran dari pemancar ke pengumpul 2. a. Transistor NPN adalah transfer yg memiliki gerbang pemicu positif untuk bekerja. Cara kerjanya yaitu bergantung dari besar arus yg masuk / melalui transistor tersebut. - Jika arusnya besar, maka alirannya melalui kolektor menuju emiter, - Jika arusnya kecil, maka alirannya melalui basis ke emiter. b. Transistor PNP adalah transfer yg memiliki gerbang pemicu negative untuk bekerja. Cara kerjanya yaitu juga bergantung pada intensitas arus yang melaluinya. -Jika arusnya besar, maka alirannya melalui emiter menuju ke kolektor, -Jika arusnya kecil, maka alirannya melalui emiter menuju ke basis. 3. a. Konfigurasi CE adalah penggunaan emiter pada transistor secara bersamaan sebagai masukan dan keluaran yang berfungsi sebagai terminal keluaran maupun masukan. b. Konfiguras CC adalah penggunaan kolektor pada transistor secara bersamaan sebagai masukan dan keluaran yang berfungsi sebagai terminal masukan maupun keluaran c. Konfiguras CB adalah penggunaan basis pada transistor secara bersamaan sebagai masukan dan keluaran yg berfungsi sebagai produksi terminal.

LAPORAN EMITER DITANAHKAN

LAPORAN PRAKTIKUM ELEKTRONIKA FISIS DASAR I “PENGUAT EMITOR DITANAHKAN” OLEH ADRIADIPA SAIDIN T H21110008 KEL. I ASISTEN: YULIANTI JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN 2011 BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG Sesuai dengan namanya, penguat emitter ditanahkan (common emiter), memiliki kaki emitor dari transistor bipolar dalam rangkaian penguat dihubungkan dengan tanah (ground AC). Basis emitor berada dalam keadaan basis maju. Transistor merupakan komponen yang sangat penting dalam dunia elektronik modern. Dalam rangkaian analog, transistor digunakan dalam amplifier (penguat). Rangkaian analog melingkupi pengeras suara, sumber listrik stabil (stabilisator) dan penguat sinyal radio. Dalam rangkaian-rangkaian digital, transistor digunakan sebagai saklar berkecepatan tinggi. Beberapa transistor juga dapat dirangkai sedemikian rupa sehingga berfungsi sebagai logic gate, memori dan fungsi rangkaian-rangkaian lainnya. Transistor merupakan komponen elrktronika yang berfungsi sebagai penguat arus, stabilisasi, penyaklaran, dll.Dalam adaptor transistor berfungsi sebagai stabilizer, untuk penyetabil arus yang keluar dari blok filter. Pada umumnya transistor dibagi dua yaitu transistor PNP dan transistor NPN. Dan dari pembagian ini akan di klasifikasikan lagi tergantung jenis jenis transistor tersebut. Untuk lebih jelasnya mengenai jenis-jenis transistor dapat dilihat pada bab pembahasan. I.2 RUANG LINGKUP Adapun yang akan dibahas atau ruang lingkup dari percobaan penguat emitor ditanahkan ini diantaranya adalah menghitung h_fe dan h_oe dari kurva karakteristik keluaran transistor, bagaimana untuk mengerti cara kerja rangkaian common emitor dan membuatnya bekerja sebagai penguat, bagaimana membuat transistor bekerja dengan titik q di tengah garis beban pada daerah saturasi, pada cut-off, bagaimana menjelaskan bentuk-bentuk isyarat keluaran saat transistor bekerja pada titik operasi yang bersangkutan, bagaimana cara mengukur hambatan keluaran penguat, serta bagaimana cara mengukur tanggapan amplitude penguat. I.3 TUJUAN PERCOBAAN Setelah melakukan praktikum ini, diharapkan memiliki kemampuan sebagai berikut : Menghitung hfe dan hoc dari kurva karakteristik keluaran transistor Mengerti cara kerja rangkaian common emiter, dan membuatnya bekerja sebagai penguat Membuat transistor bekerja dengan titik –q di tengah garis beban, pada daerah saturasi, pada cut-off, serta menjelaskan bentuk-bentuk isyarat keluaran saat transistor bekerja pada titik operasi yang bersangkuan Mengukur hambatan masukan dan hambatan keluaran penguat Mengukur tanggapan amplitudo penguat 1.4 WAKTU DAN TEMPAT PERCOBAAN Percobaan ini dilaksanakan pada hari senin tanggal 24 oktober 2011, tepatnya pada pukul 13.00-16.00 WITA. Percobaan ini berlangsung di Laboratorium Elektronika Fisis Dasar, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai sebagai penguat, sebagai sirkuit pemutus dan penyambung (switching), stabilisasi tegangan, modulasi sinyal atau sebagai fungsi lainnya. Transistor dapat berfungsi semacam kran listrik, dimana berdasarkan arus inputnya (BJT) atau tegangan inputnya (FET), memungkinkan pengaliran listrik yang sangat akurat dari sirkuit sumber listriknya. Transistor through-hole (dibandingkan dengan pita ukur sentimeter) Pada umumnya, transistor memiliki 3 terminal, yaitu Basis (B), Emitor (E) dan Kolektot (C). Tegangan yang di satu terminalnya misalnya Emitor dapat dipakai untuk mengatur arus dan tegangan yang lebih besar daripada arus input Basis, yaitu pada keluaran tegangan dan arus output Kolektor. CARA KERJA SEMIKONDUKTOR Pada dasarnya, transistor dan tabung vakum memiliki fungsi yang serupa; keduanya mengatur jumlah aliran arus listrik. Untuk mengerti cara kerja semikonduktor, misalkan sebuah gelas berisi air murni. Jika sepasang konduktor dimasukan kedalamnya, dan diberikan tegangan DC tepat dibawah tegangan elektrolisis (sebelum air berubah menjadi Hidrogen dan Oksigen), tidak akan ada arus mengalir karena air tidak memiliki pembawa muatan (charge carriers). Sehingga, air murni dianggap sebagai isolator. Jika sedikit garam dapur dimasukan ke dalamnya, konduksi arus akan mulai mengalir, karena sejumlah pembawa muatan bebas (mobile carriers, ion) terbentuk. Menaikan konsentrasi garam akan meningkatkan konduksi, namun tidak banyak. Garam dapur sendiri adalah non-konduktor (isolator), karena pembawa muatanya tidak bebas. Silikon murni sendiri adalah sebuah isolator, namun jika sedikit pencemar ditambahkan, seperti Arsenik, dengan sebuah proses yang dinamakan doping, dalam jumlah yang cukup kecil sehingga tidak mengacaukan tata letak kristal silikon, Arsenik akan memberikan elektron bebas dan hasilnya memungkinkan terjadinya konduksi arus listrik. Ini karena Arsenik memiliki 5 atom di orbit terluarnya, sedangkan Silikon hanya 4. Konduksi terjadi karena pembawa muatan bebas telah ditambahkan (oleh kelebihan elektron dari Arsenik). Dalam kasus ini, sebuah Silikon tipe-n (n untuk negatif, karena pembawa muatannya adalah elektron yang bermuatan negatif) telah terbentuk. Selain dari itu, silikon dapat dicampur dengan Boron untuk membuat semikonduktor tipe-p. Karena Boron hanya memiliki 3 elektron di orbit paling luarnya, pembawa muatan yang baru, dinamakan "lubang" (hole, pembawa muatan positif), akan terbentuk di dalam tata letak kristal silikon. Dalam tabung hampa, pembawa muatan (elektron) akan dipancarkan oleh emisi thermionic dari sebuah katode yang dipanaskan oleh kawat filamen. Karena itu, tabung hampa tidak bisa membuat pembawa muatan positif (hole). Dapat disimak bahwa pembawa muatan yang bermuatan sama akan saling tolak menolak, sehingga tanpa adanya gaya yang lain, pembawa-pembawa muatan ini akan terdistribusi secara merata di dalam materi semikonduktor. Namun di dalam sebuah transistor bipolar (atau diode junction) dimana sebuah semikonduktor tipe-p dan sebuah semikonduktor tipe-n dibuat dalam satu keping silikon, pembawa-pembawa muatan ini cenderung berpindah ke arah sambungan P-N tersebut (perbatasan antara semikonduktor tipe-p dan tipe-n), karena tertarik oleh muatan yang berlawanan dari seberangnya. CARA KERJA TRANSISTOR Dari banyak tipe-tipe transistor modern, pada awalnya ada dua tipe dasar transistor, bipolar junction transistor (BJT atau transistor bipolar) dan field-effect transistor (FET), yang masing-masing bekerja secara berbeda. Transistor bipolar dinamakan demikian karena kanal konduksi utamanya menggunakan dua polaritas pembawa muatan: elektron dan lubang, untuk membawa arus listrik. Dalam BJT, arus listrik utama harus melewati satu daerah/lapisan pembatas dinamakan depletion zone, dan ketebalan lapisan ini dapat diatur dengan kecepatan tinggi dengan tujuan untuk mengatur aliran arus utama tersebut. FET (juga dinamakan transistor unipolar) hanya menggunakan satu jenis pembawa muatan (elektron atau hole, tergantung dari tipe FET). Dalam FET, arus listrik utama mengalir dalam satu kanal konduksi sempit dengan depletion zone di kedua sisinya (dibandingkan dengan transistor bipolar dimana daerah Basis memotong arah arus listrik utama). Dan ketebalan dari daerah perbatasan ini dapat diubah dengan perubahan tegangan yang diberikan, untuk mengubah ketebalan kanal konduksi tersebut. Lihat artikel untuk masing-masing tipe untuk penjelasan yang lebih lanjut. Jenis-jenis transistor PNP P-channel NPN N-channel BJT JFET Simbol Transistor dari Berbagai Tipe Secara umum, transistor dapat dibeda-bedakan berdasarkan banyak kategori: Materi semikonduktor: Germanium, Silikon, Gallium Arsenide Kemasan fisik: Through Hole Metal, Through Hole Plastic, Surface Mount, IC, dan lain-lain Tipe: UJT, BJT, JFET, IGFET (MOSFET), IGBT, HBT, MISFET, VMOSFET, MESFET, HEMT, SCR serta pengembangan dari transistor yaitu IC (Integrated Circuit) dan lain-lain. Polaritas: NPN atau N-channel, PNP atau P-channel Maximum kapasitas daya: Low Power, Medium Power, High Power Maximum frekwensi kerja: Low, Medium, atau High Frequency, RF transistor, Microwave, dan lain-lain Aplikasi: Amplifier, Saklar, General Purpose, Audio, Tegangan Tinggi, dan lain-lain BJT BJT (Bipolar Junction Transistor) adalah salah satu dari dua jenis transistor. Cara kerja BJT dapat dibayangkan sebagai dua dioda yang terminal positif atau negatifnya berdempet, sehingga ada tiga terminal. Ketiga terminal tersebut adalah emiter (E), kolektor (C), dan basis (B). Perubahan arus listrik dalam jumlah kecil pada terminal basis dapat menghasilkan perubahan arus listrik dalam jumlah besar pada terminal kolektor. Prinsip inilah yang mendasari penggunaan transistor sebagai penguat elektronik. Rasio antara arus pada koletor dengan arus pada basis biasanya dilambangkan dengan β atau hFE. β biasanya berkisar sekitar 100 untuk transistor-transisor BJT. FET FET dibagi menjadi dua keluarga: Junction FET (JFET) dan Insulated Gate FET (IGFET) atau juga dikenal sebagai Metal Oxide Silicon (atau Semiconductor) FET (MOSFET). Berbeda dengan IGFET, terminal gate dalam JFET membentuk sebuah dioda dengan kanal (materi semikonduktor antara Source dan Drain). Secara fungsinya, ini membuat N-channel JFET menjadi sebuah versi solid-state dari tabung vakum, yang juga membentuk sebuah dioda antara grid dan katode. Dan juga, keduanya (JFET dan tabung vakum) bekerja di "depletion mode", keduanya memiliki impedansi input tinggi, dan keduanya menghantarkan arus listrik dibawah kontrol tegangan input. FET lebih jauh lagi dibagi menjadi tipe enhancement mode dan depletion mode. Mode menandakan polaritas dari tegangan gate dibandingkan dengan source saat FET menghantarkan listrik. Jika kita ambil N-channel FET sebagai contoh: dalam depletion mode, gate adalah negatif dibandingkan dengan source, sedangkan dalam enhancement mode, gate adalah positif. Untuk kedua mode, jika tegangan gate dibuat lebih positif, aliran arus di antara source dan drain akan meningkat. Untuk P-channel FET, polaritas-polaritas semua dibalik. Sebagian besar IGFET adalah tipe enhancement mode, dan hampir semua JFET adalah tipe depletion mode. BAB III METODOLOGI PERCOBAAN III.1 ALAT DAN BAHAN Adapun alat dan bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah, sebagai berikut: 1. Multimeter , digunakan untuk mengukur hambatan, tegangan dan arus. 2. Osiloskop , digunakan untuk mengukur dan menampilkan tegangan sinusoidal 3. Catu daya , digunakan sebagai sumber tegangan listrik 4. Signal generator, digunakan untuk menentukan frekuensi . 5. Kabel Jamper berfungsi sebagai alat penghubung suatu rangkaian. Transistor berfungsi sebagai penguat tegangan dan penguat arus. Papan PCB berfungsi sebagai tempat untuk membuat suatu rangkaian. Resistor berfungsi sebagai komponen pasif yang dibuat untuk mendapatkan hambatan tertentu. Kapasitor berfungsi untuk penyimpan muatan 10 Potensiometer , berfungsi untuk menghambat arus III.2 PROSEDUR PERCOBAAN Adapun prosedur percobaan yang pada praktikum ini yaitu: Menyiapkan alat dan bahan, serta komponen-komponen yang diperlukan. Mengkalibrasi multimeter terlebih dahulu untuk mengetahui apakah multimeter tersebut bekerja dengan baik. Menghitung resistansi setiap resistor dengan melihat dari cincinnya, serta menetukan menetukan kaki basis, emitor, dan kolektor pada transistor agar kaki transistor tidak salah tempat. Sehingga rangkaian tidak terjadi kesalahan. Merangkai kompoene-komponen sesuai dengan rangkaian yang sudah disiapkan dalam buku penuntun. Mengukur IC,VEE, dan IB dengan menggunakan multimeter. Mengukur tegangan keluaran keluaran V0 dan isyarat masukan Vi dengan osiloskop. Mengukur hambatan masukan penguat dan mengukur impedansi keluaran pembangkit isyarat terlebih dahulu. Mengukur keluaran penguat BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 HASIL IV.1.1 Hasil Rangkaian Transistor Tabel Data NO Warna Cincing Resistor Resistansi Pengukuran 1 Biru, Abu-abu, hitam, Emas 680±5% Ω 2 Merah, Ungu, Orange, Emas 27 × 〖10〗^(3 )± 5 Ω = 27 KΩ 3 Coklat, Hitam, Kuning, Emas 10 × 〖10〗^(4 )± 5 Ω= 100 KΩ 4 Hijau, Biru, Kuning, Emas 56 × 〖10〗^(4 )± 5 Ω= 560 KΩ 5 Coklat, Merah, Orange, Emas 12 × 〖10〗^(3 )± 5 Ω= 12 KΩ Pada osiloskop : Voutput = 5,2 volt Vinput = 2 volt Diketahui: f= 12 Hz, IC = 14 µA IB = 0,2 µA VCC = 13 volt VCE = 6 volt VEE = 7 volt IV.1.2 Pengolahan Data Hfe = I_C/I_B = (14 × 〖10〗^(-6) A)/(0,2 × 〖10〗^(-3 A) ) = 70× 〖10〗^(-3) Hoe = I_C/V_CE = (14 × 〖10〗^(-6) A)/(6 volt) = 2,3× 〖10〗^(-6) A = V_out/V_in = (5,2 volt)/(2 volt) = 2,6 IV.2 Pembahasan Hasil dari percobaan ini dapat dilihat secara jelas pada table hasil pengamatan di atas. Dimana setiap resistor yang digunaakn memiliki resistansi yang berbeda-beda. Reistansi suatu resistor dapat dilihat nilainya berdasarkan pada warna cincinnya, dimana nilai dari setiap warna resistor sebagai berikut: Hitam (0), Cokelat (1), Merah (2), Orange (3), Kuning (4), Hijau (5), Biru (6), Ungu (7), Abu-abu (8), Putih (9). Dan untuk warna emas pada cincin ke 4 memiliki toleransi 5%. Dari hasil rangkaian di atas dapat dihitung nilai Ic dengan cara menghubungkan rangkaian dengan multimeter dan catu daya, dimana pada kaki resistansi dihubungkan dengan arus positif dan kolektor dengan arus negatif. Dan besar Ib dapat dihitung dengan cara yang sama, tetapi bedanya pada Ib, arus positif dihubungkan dengankapasitor dan arus negative dihubungkan dengan basis. Sedangkan untuk mendapatkan nilai VEE dilakukan dengan cara yang sama pula dengan kedua cara di atas, tetapi yang membedakannya adalah arus positifnya dihubungkan dengan emitor dan arus negatinya dihubunkan dengan ground. Adapun berdasarkan isyarat masukan terlihat jika tegangan yang masuk pada rangkaian besar , maka tanggapan amplitudo yang keluar kecil. Sedangkan jika isyarat keluaran besar maka amplitude juga akan semakin besar. BAB V PENUTUP V. 1 Kesimpulan Setelah melakukan percobaan ini dapat disimpulkan bahwa : Hfe dan hoe dapat dicari dengan menggunakan rumus berikut : hfe = I_C/I_B dan hoe = I_C/V_CE Semakin besar tegangan yang masuk pada suatu rangkaian, makatanggapan amplitudonya semakin kecil, dan begitu pula sebaliknya. Dan jika tegangan yang keluar kecil maka tanggapan amplitudo pada rangkaian juga kecil. Ini dapat dilihat dari persamaan: A = V_out/V_in V. 2 Saran V.2. 1 Saran untuk laboraturium Sebaiknya alat dan bahan di laboraturium diganti karena sudah banyak alat dan bahan yang tidak layak digunakan, agar hasil praktikum lebih akurat . Ruangannya masih terlalu kecil dan panas V.2. 2 saran untuk asisten Cara menjelaskan sudah bagus, penguasaan materi juga sudah bagus tapi apabila memberi respon sebaiknya jangan terlalu banyak karena waktu yg diberikan bgitu singkat. Jangan terlalu sering kasih mines praktikan, supaya nilai yang dikumpulkan memuaskan. DAFTAR PUSTAKA Anonim. "http://id.google.org/penguat emiter ditanahkan ",download tanggal 25 Oktober 2011 Anonim. "http://id.osun.org/wiki/transistor ", download tanggal 25 Oktober 2011 Arifin H. 2011. Penuntun Praktikum Elektronika Dasar 1. Makassar : Universitas Hasanuddin. Sutrisno. 1986. Elektronika Teori dan Penerapannya 1. Bandung : Penerbit ITB.

Sabtu, 22 Oktober 2011

laporan elektronoka dasar 1 TRANSISTOR

LAPORAN PRAKTIKUM ELEKTRONIKA FISIS DASAR I “TRANSISTOR” Nama : ADRIADIPA SAIDIN TUTANG Nim : H21110008 Kelompok : I Nama Asisten : JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN 2010 BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG Transistor merupakan komponen elrktronika yang berfungsi sebagai penguat arus, stabilisasi, penyaklaran, dll.Dalam adaptor transistor berfungsi sebagai sebagai stabilizer, untuk penyetabil arus yang keluar dari blok filter. Pada umumnya transistor dibagi dua yaitu transistor PNP dan transistor NPN. Dan dari pembagian ini akan di klasifikasikan lagi tergantung jenis jenis transistor tersebut. Untuk lebih jelasnya mengenai jenis-jenis transistor dapat dilihat pada bab pembahasan. Transistor PNP ( P-Channel ) adalah transistor yang sumbernya terletak pada gate positif. Sedangkan transistor NPN ( N-Channel )adalah transistor yang sumbernya terletak pada gate negative. Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai sebagai penguat, sebagai sirkuit pemutus dan penyambung (switching), stabilisasi tegangan, modulasi sinyal atau sebagai fungsi lainnya. Transistor dapat berfungsi semacam kran listrik, dimana berdasarkan arus inputnya (BJT) atau tegangan inputnya (FET), memungkinkan pengaliran listrik yang sangat akurat dari sirkuit sumber listriknya. Transistor through-hole (dibandingkan dengan pita ukur sentimeter) Pada umumnya, transistor memiliki 3 terminal. Tegangan atau arus yang dipasang di satu terminalnya mengatur arus yang lebih besar yang melalui 2 terminal lainnya. Transistor adalah komponen yang sangat penting dalam dunia elektronik modern. Dalam rangkaian analog, transistor digunakan dalam amplifier (penguat). Rangkaian analog melingkupi pengeras suara, sumber listrik stabil, dan penguat sinyal radio. Dalam rangkaian-rangkaian digital, transistor digunakan sebagai saklar berkecepatan tinggi. rupa sehingga berfungsi sebagai logic gate, memori, dan komponen-komponen lainnya. I.2 RUANG LINGKUP Pada percobaan transistor ini meliputi bagaimana cara membuat rangkaian transistor.Mengukur nilai VCC dan RC, serta mengukur nilai VEE dan RE. Menghitung arus IC dan IB. I.3 TUJUAN PERCOBAAN Setelah melakukan praktikum ini, diharapkan memiliki kemampuan sebagai berikut : Menghitung hfe dan hoc dari kurva karakteristik keluaran transistor Mengerti cara kerja rangkaian common emiter, dan membuatnya bekerja sebagai penguat Membuat transistor bekerja dengan titik –q di tengah garis beban, pada daerah saturasi, pada cut-off, serta menjelaskan bentuk-bentuk isyarat keluaran saat transistor bekerja pada titik operasi yang bersangkuan Mengukur hambatan masukan dan hambatan keluaran penguat Mengukur tanggapan amplitudo penguat 1.4 WAKTU DAN TEMPAT PERCOBAAN Dalam percobaan ini dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 8 oktober 2010, tepatnya pada pukul 8.00-11.00 WITA. Percobaan ini berlangsung di Laboratorium Elektronika Fisis Dasar, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Transistor berasal dari kata transfer resistor. Piranti elektronik jenis ini dikembangkan oleh Berdeen, Schokley dan Brittam pada tahun 1948 di perusahaan elektronik Bell Telephone Laboratories. Penamaan ini berdasarkan pada prinsip kerjanya yakni mentransfer atau memindahkan arus. Transistor berasal dari kata transfer resistor. Piranti elektronik jenis ini dikembangkan oleh Berdeen, Schokley dan Brittam pada tahun 1948 di perusahaan elektronik Bell Telephone Laboratories. Penamaan ini berdasarkan pada prinsip kerjanya yakni mentransfer atau memindahkan arus. Sebuah transistor digambar dalam bentuk symbol : Transistor memiliki 3 kaki, yakni: Basis ( B ), Collector ( C ) dan Emitor ( E ). Kaki kolektor pada transistor NPN selalu berada pada kutub positip, sedang kaki kolektor pada transistor PNP selalu pada kutub negatif. Sebuah transistor selalu diberikan kode – kode tertentu sesuai dengan pabrik pembuatnya maupun fungsi transistor. KARKTERISTIK TRANSISTOR Pada umumnya, transistor memiliki 3 terminal. Tegangan atau arus yang dipasang di satu terminalnya mengatur arus yang lebih besar yang melalui 2 terminal lainnya. Transistor adalah komponen yang sangat penting dalam dunia elektronik modern. Dalam rangkaian analog, transistor digunakan dalam amplifier (penguat). Rangkaian analog melingkupi pengeras suara, sumber listrik stabil, dan penguat sinyal radio. Dalam rangkaian-rangkaian digital, transistor digunakan sebagai saklar berkecepatan tinggi. Beberapa transistor juga dapat dirangkai sedemikian rupa sehingga berfungsi sebagai logic gate, memori, dan komponen-komponen lainnya. PRINSIP KERJA TRANSISTOR Dua tipe dasar transistor yaitu, bipolar junction transistor (BJT atau transistor bipolar) dan field-effect transistor (FET), yang masing-masing bekerja secara berbeda. BJT Transistor bipolar dinamakan demikian karena kanal konduksi utamanya menggunakan dua polaritas pembawa muatan: elektron dan lubang, untuk membawa arus listrik. Dalam BJT, arus listrik utama harus melewati satu daerah/lapisan pembatas dinamakan depletion zone, dan ketebalan lapisan ini dapat diatur dengan kecepatan tinggi dengan tujuan untuk mengatur aliran arus utama tersebut. FET FET (juga dinamakan transistor unipolar) hanya menggunakan satu jenis pembawa muatan (elektron atau hole, tergantung dari tipe FET). Dalam FET, arus listrik utama mengalir dalam satu kanal konduksi sempit dengan depletion zone di kedua sisinya (dibandingkan dengan transistor bipolar dimana daerah Basis memotong arah arus listrik utama). Dan ketebalan dari daerah perbatasan ini dapat dirubah dengan perubahan tegangan yang diberikan, untuk mengubah ketebalan kanal konduksi tersebut. FUNGSI TRANSISTOR Dalam rangkaian elektronika transistor banyak digunakan sebagai penguat , penyearah, pencampur, oscillator, saklar elektronik dll. Sebagai penguat transistor digunakan untuk menguatkan tegangan, arus serta daya, baik bagi arus bolak – balik maupun searah. Sebagai penyearah, transistor digunakan untuk mengubah tegangan bolak – balik menjadi tegangan searah. Sebagai pencampur, transistor digunakan untuk mencampur dua macam tegangan bolak – balik atau lebih yang mempunyai frekuensi berbeda. Sebagai oscillator,transistor digunakan untuk membangkitkan getaran – getran listrik. Sebagai saklar elektronik, transistor digunakan untuk menyambung putuskan rangkaian elektronika. JENIS-JENIS TRANSISTOR Transistor di klasifikasikan menjadi dua: 1. transistor bipolar (BJT) Transistor bipolar biasanya digunakan sebagai saklar elektronik dan penguat pada rangkaian elektronika digital. Transistor memiliki 3 terminal. Transistor biasanya dibuat dari bahan silikon atau germanium. Tiga kaki yang berlainan membentuk transistor bipolar adalah emitor, basis dan kolektor. Mereka dapat dikombinasikan menjadi jenis N-P-N atau P-N-P yang menjadi satu sebagai tiga kaki transistor. Gambar di bawah memperlihatkan bentuk dan simbol untuk jenis NPN. (Pada transistor PNP, panah emitor berlawanan arah). Gambar Simbol Transistor NPN dan PNP Pada rangkaian elektronik, sinyal inputnya adalah 1 atau 0 ini selalu dipakai pada basis transistor, yang mana kolektor dan emitor sebagai penghubung untuk pemutus (short) atau sebagai pembuka rangkaian. Aturan/prosedur transistor sebagai berikut: Pada transistor NPN, memberikan tegangan positif dari basis ke emitor, menyebabkan hubungan kolektor ke emitter terhubung singkat, yang menyebabkan transistor aktif (on). Memberikan tegangan negatif atau 0 V dari basis ke emitor menyebabkan hubungan kolektor dan emitor terbuka, yang disebut transistor mati (off). Pada PNP transistor PNP, memberikan tegangan negatif dari basis ke emitor ini akan menyalakan transistor (on ). Dan memberikan tegangan positif atau 0 V dari basis ke emitor ini akan membuat transistor mati (off). 2. Transistor unipolar (FET) FET dibagi menjadi dua keluarga: Junction FET (JFET) dan Insulated Gate FET (IGFET) atau juga dikenal sebagai Metal Oxide Silicon (atau Semiconductor) FET (MOSFET). Berbeda dengan IGFET, terminal gate dalam JFET membentuk sebuah dioda dengan kanal (materi semikonduktor antara Source dan Drain). Secara fungsinya, ini membuat N-channel JFET menjadi sebuah versi solid-state dari tabung vakum, yang juga membentuk sebuah dioda antara antara grid dan katode. Dan juga, keduanya (JFET dan tabung vakum) bekerja di "depletion mode", keduanya memiliki impedansi input tinggi, dan keduanya menghantarkan arus listrik dibawah kontrol tegangan input. FET lebih jauh lagi dibagi menjadi tipe enhancement mode dan depletion mode. Mode menandakan polaritas dari tegangan gate dibandingkan dengan source saat FET menghantarkan listrik. Jika kita ambil N-channel FET sebagai contoh: dalam depletion mode, gate adalah negatif dibandingkan dengan source, sedangkan dalam enhancement mode, gate adalah positif. Untuk kedua mode, jika tegangan gate dibuat lebih positif, aliran arus di antara source dan drain akan meningkat. Untuk P-channel FET, polaritas-polaritas semua dibalik. Sebagian besar IGFET adalah tipe enhancement mode, dan hampir semua JFET adalah tipe depletion mode. APLIKASI TRANSISTOR DALAM SUATU RANGKAIAN Aplikasi transistor tidak hanya dibatasi pada penguatan sinyal saja. Tetapi dapat juga diaplikasikan sebagai sebuah saklar (switch) pada komputer atau peralatan kontrol lainnya. Saat transistor berada dalam kondisi saturasi, berarti transistor tersebut merupakan saklar tertutup dari kolektor ke emitor. Jika transistor tersumbat (cut off) berarti transistor seperti sebuah saklar yang terbuka”. Cara Kerja Transistor Dari banyak tipe-tipe transistor modern, pada awalnya ada dua tipe dasar transistor, bipolar junction transistor (BJT atau transistor bipolar) dan field-effect transistor (FET), yang masing-masing bekerja secara berbeda. Transistor bipolar dinamakan demikian karena kanal konduksi utamanya menggunakan dua polaritas pembawa muatan: elektron dan lubang, untuk membawa arus listrik. Dalam BJT, arus listrik utama harus melewati satu daerah/lapisan pembatas dinamakan depletion zone, dan ketebalan lapisan ini dapat diatur dengan kecepatan tinggi dengan tujuan untuk mengatur aliran arus utama tersebut. FET (juga dinamakan transistor unipolar) hanya menggunakan satu jenis pembawa muatan (elektron atau hole, tergantung dari tipe FET). Dalam FET, arus listrik utama mengalir dalam satu kanal konduksi sempit dengan depletion zone di kedua sisinya (dibandingkan dengan transistor bipolar dimana daerah Basis memotong arah arus listrik utama). Dan ketebalan dari daerah perbatasan ini dapat dirubah dengan perubahan tegangan yang diberikan, untuk mengubah ketebalan kanal konduksi tersebut. Lihat artikel untuk masing-masing tipe untuk penjelasan yang lebih lanjut. Jenis-jenis transistor Secara umum, transistor dapat dibeda-bedakan berdasarkan banyak kategori: Materi semikonduktor: Germanium, Silikon, Gallium Arsenide. Kemasan fisik: Through Hole Metal, Through Hole Plastic, Surface Mount, IC, dan lain-lain. Tipe: UJT, BJT, JFET, IGFET (MOSFET), IGBT, HBT, MISFET, VMOSFET, MESFET, HEMT, SCR serta pengembangan dari transistor yaitu IC (Integrated Circuit) dan lain-lain. Polaritas: NPN atau N-channel, PNP atau P-channel Maximum kapasitas daya: Low Power, Medium Power, High Power Maximum frekwensi kerja: Low, Medium, atau High Frequency, RF transistor, Microwave, dan lain-lain Aplikasi: Amplifier, Saklar, General Purpose, Audio, Tegangan Tinggi, dan lain-lain BAB III METODOLOGI PERCOBAAN III.1 ALAT DAN BAHAN Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini,yaitu: 1.Multimeter , digunakan untuk mengukur hambatan 2.Osiloskop , digunakan untuk mengukur dan menampilkan tegangan sinusoidal 3.Potensiometer, digunakan untuk mengukur tegangan. 4.Transistor BC 108, digunakan sebagai penguat, sirkuit pemutus dan penyambung (switching), stabilisasi tegangan, modulasi sinyal 5. Papan PCB , digunakan sebagai wadah atau tempat untuk memasang rangkaian. 6.Catu daya , digunakan sebagai sumber tegangan listrik 7.Resistor 10 K dan 12 K , digunakan sebagai hambatan dalam suatu rangkaian 8.Kapasitor 10 µF dan 100 µF, digunakan untuk menyimpan muatan 9.Kabel Jumper, digunakan untuk menghubungkan potensiometer dengan rangkaian common emitor. 10.Signal generator, digunakan untuk menentukan V0 . III.2 PROSEDUR PERCOBAAN Adapun prosedur percobaan yang dilakukan pada praktikum ini yaitu: Menyiapkan alat dan bahan, serta komponen-komponen yang diperlukan. Mengkalibrasi multimeter terlebih dahulu untuk mengetahui apakah multimeter tersebut bekerja dengan baik. Merangkai kompoene-komponen sesuai dengan rangkaian yang sudah disiapkan dalam buku penuntun. Menghitung resistansi setiap resistor dengan melihat dari cincinnya, serta menetukan menetukan kaki basis, emitor, dan kolektor pada transistor agar kaki transistor tidak salah tempat. Sehingga rangkaian tidak terjadi kesalahan. Setelah merangkai komponen pada PCB maka kita akan mengukur IC,VEE, dan IB dengan menggunakan multimeter. Setelah itu, mengukur tegangan keluaran keluaran V0 dan isyarat masukan Vi dengan osiloskop. Mengukur hambatan masukan penguat dan mengukur impedansi keluaran pembangkit isyarat terlebih dahulu. Kemudian mengukur keluaran penguat. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 HASIL IV.1.1 Hasil Rangkaian Transistor IV.1.2 Pengolahan Data Menentukan resistansi masing-masing resistor Warna Cincin Nilai Hitam 0 Coklat 1 Merah 2 Orange 3 Kuning 4 Hijau 5 Biru 6 Violet 7 Abu-abu 8 Putih 9 Resistor 1 = 56 x 104 Ω Resistor 2 = 10 x 104 Ω Resistor 3 = 12 x 103 Ω Resistor 4 = 27 x 102 Resistor 5 = 56 x 104 Ω Kapasitor yang digunakan yaitu C1 dan C2=10μF dan CE=100 μF Menentukan IC, VEE, IB, dan V0 Di mana nilai: IC = 9,8 A IB = 7,9 A VCC = 12 V RC = 0,2 Ω VEE = 9 V RE = 0,2 Ω VI = 0,12 V VO = 0,06 V Menghitung h¬fe dan hoe Nilai hfe hfe = ∆Ic/∆Ib = 9,8/7,9 = 1,24 Nilai hoe VCE = 1/2 VCC = 1/2 12 = 6 V hoe = 〖∆I〗_C/〖∆V〗_CE = 9,8/6 = 1,633 IV.2 PEMBAHASAN Pada percobaan transistor ini kami sebagai praktikan membuat rangkaian transistor dengan ala dan yang telah disediakan dalam proses membuat rangkaian kami dituntun oleh asisten, dalam membuat rangkaian in kita harus memperhatikan cara pemasangan komponen-komponen dalam rangkaian karena apabila kita salah membuat rangkaian dapat mengakibatkan salah dalam pengambilan datanya. Dalam percobaan ini juga kita diajarkan bagaimana cara membaca cincin-cincin dari transistor serta asistennya memberi tahukan nilai-nilai dari setiap warna cincin transistor tersebut. Dalam percobaan transistor ini kita dapat mencari nilai IC, IB, VCC, RC, VEE, dan RE. Setelah mendapat nilai-nilai tersebut kita dapa menetukan nilai hfe dan hoe, untuk mencari nilai hoe terlebih dahulu kita mencari nilai VCE, dan untuk mencari nilai VCE tersebut kita dapat menggunakan rumus,sebagai berikut: VCE = 1/2 VCC Dan untuk mencari nilai hfe dan hoe dapat menggunakan rumus, sebagai berikut: hfe = ∆Ic/∆Ib , dan hoe = 〖∆I〗_C/〖∆V〗_CE Dari pengolahan data kami mendapatkan nilai IC, IB , VCC , RC, VEE, RE, VI, dan VO sebagai berikut: IC = 9,8 A IB = 7,9 A VCC = 12 V RC = 0,2 Ω VEE = 9 V RE = 0,2 Ω VI = 0,12 V VO = 0,06 V Dalam pengolahan data juga kami mendapatkan nilai hfe = 1,24 dan nilai hoe = 1,63 sedangkan nilai VCE = 6 V. BAB V PENUTUP V.1 KESIMPULAN Dari percobaan dioda ini diperoleh beberapa kesimpula sebagai berikut : Dari percobaan yang kami lakukan, kami mendapatkan data nilai IC, IB , VCC , RC, VEE, RE, VI, dan VO sebagai berikut: IC = 9,8 A IB = 7,9 A VCC = 12 V RC = 0,2 Ω VEE = 9 V RE = 0,2 Ω VI = 0,12 V VO = 0,06 V Dalam pengolahan data kami mendapatkan nilai hfe = 1,24 dan nilai hoe = 1,63 sedangkan nilai VCE = 6 V. Untuk mencari nilai hfe dan hoe dapat menggunakan rumus, sebagai berikut: hfe = ∆Ic/∆Ib , dan hoe = 〖∆I〗_C/〖∆V〗_CE V.2 SARAN Adapun saran untuk laboratorium dan asisten, sebagai berikut : V.2.1 Saran Untuk Laboratorium Peralatan Laboratorium sudah cukup menunjang pelaksaan praktikum. Tetapi ada beberapa alat yang mestinya sudah harus diganti karena sudah tidak layak digunakan. . Ruangan laboratorium harus lebih luas, supaya pada saat menjalankan praktikum semua kelompok tidak berdekatan atau berdempetan karena itu sangat mengganggu jalannya praktikum. V.2.2 Saran Untuk Asisten Penguasaan materinya bagus,tingkatkan lagi penguasaan materinya. Ketika membuat rangkaian bagus, karena disertai penjelasan bagaimana cara merangkaikan rangkaian tersebut. DAFTAR PUSTAKA zaliajaah http://zalielektro.blogs... http://fb.me/sAZD940H 22 hours ago reply © electroniclab.com. Powered by Joomla!Valid XHTML and CSS http://justsite.blogspot.com/2010/02/fungsi-transistor.html

laporan catu daya


LAPORAN PRAKTIKUM

ELEKTRONIKA FISIS DASAR I
“RANGKAIAN ARUS BOLAK BALIK (AC)”

Logo UH colour 01

Nama                   : ADRIADIPA SAIDIN TUTANG
Nim                      : H21110008
Kelompok            : I (SATU)
Nama Asisten      : ABD. ANDRI FAIL

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG
                Kapasitor banyak penerapannya pada rangkaian listrik. Kapasitor digunakan untuk menyetel sirkuit radio dan untuk memuluskan jalan arus terrektifikasi yang berasal dari sumber tenaga listrik.Kapasitor dipakai untuk mencegah adanya bunga api pada waktu sebuah rangkaian yang mengandung induktansi tiba-tiba dibuka. Efisiensi tranmisi daya arus bolak-balik sering dapat dinaikan dengan menggunakan kapasitor besar. Kapasitansi C sebuah kapasitor didefinisikan sebagai perbandingan besar muatan Q pada salah satu konduktornya terhadap besar beda potensial Vab anatara kedua konduktor tersebut :
C=Q/Vab
Maka berdasarkan definisi ini, satuan kapasitansi ialah satu coulomb per volt atau ( 1 C V-1 ). Kapasitansi sebesar 1 coulomb per volt disebut 1 farad.
            Arus bolak-balik (AC/alternating current) adalah arus listrik dimana besarnya dan arahnya arus berubah-ubah secara bolak-balik. Berbeda dengan arus searah dimana arah arus yang mengalir tidak berubah-ubah dengan waktu. Bentuk gelombang dari listrik arus bolak-balik biasanya berbentuk gelombang sinusoida, karena ini yang memungkinkan pengaliran energi yang paling efisien. Namun dalam aplikasi-aplikasi spesifik yang lain, bentuk gelombang lain pun dapat digunakan, misalnya bentuk gelombang segitiga (triangular wave) atau bentuk gelombang segi empat (square wave).



I.2 RUANG LINGKUP
            Adapun ruang lingkup dari percobaan arus bolak balik (AC) ini diantaranya adalah bagaiman mengetahui sifat dan karakteristik dari bentuk isyarat keluaran pada differensiator dan integrator bila diberi masukan berupa isyarat persegi,dan  bagaimana mengukur tanggapan amplitudo dan tanggapan fasa dari suatu sumber AC tegangan tetap untuk tapis lolos rendah dan tapis lolos tinggi pada rangkaian RC, serta bagaimana mengukur tanggapan amplitudo rangkaian rangkaian RLC paralel terhadap sumber AC sinus arus tetap.

I.3 TUJUAN PERCOBAAN
            Adapun tujuan dari percobaan AC ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui sifat dan karakteristik dari bentuk isyarat keluaran pada differensiator dan integrator bila diberi masukan berupa isyarat persegi,
2.      mengukur tanggapan amplitudo dan tanggapan fasa dari suatu sumber AC tegangan tetap untuk tapis lolos rendah dan tapis lolos tinggi pada rangkaian RC,
3.      mengukur tanggapan amplitudo rangkaian rangkaian RLC paralel terhadap sumber AC sinus arus tetap.
I.4 WAKTU DAN TEMPAT PERCOBAAN
Pada percobaan arus searah (DC)  ini dilaksanakan pada hari senin tanggal 10 Oktober 2011, pada pukul 14.00-16.30 WITA. Percobaan ini berlangsung dilaboratorium Elektronika Fisis Dasar , Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Arus bolak-balik (AC) adalah sejenis arus yang mempunyai arah bolak-balik karena sumber arus listrik menghasilkan voltase bolak-balik karena sumber arus listrik menghasilkan voltase bolak-balik (voltase alternating). Sistem kelistrikan pada kendaraan bermotor menggunakan arus searah, listriknya berasal dari arus bolak-balik dengan menggunakan ”inverter”. Pada kendaraan bermotor yang memakai generator AC (alternator) memerlukan perubahan arus bolak-balik itu jika alternator sesuai digunakan pada kendaraan bermotor tersebut.
Secara umum, listrik bolak-balik berarti penyaluran listrik dari sumbernya (misalnya PLN) ke kantor-kantor atau rumah-rumah penduduk. Namun ada pula contoh lain seperti sinyal-sinyal radio atau audio yang disalurkan melalui kabel, yang juga merupakan listrik arus bolak-balik. Di dalam aplikasi-aplikasi ini, tujuan utama yang paling penting adalah pengambilan informasi yang termodulasi atau terkode di dalam sinyal arus bolak-balik tersebut.
Kapasitor banyak penerapannya pada rangkaian listrik.
Kapasitor digunakan untuk menyetel sirkuit radio dan untuk memuluskan jalan arus terrektifikasi yang berasal dari sumber tenaga listrik.Kapasitor dipakai untuk mencegah adanya bunga api pada waktu sebuah rangkaian yang mengandung induktansi tiba-tiba dibuka. Efisiensi tranmisi daya arus bolak-balik sering dapat dinaikan dengan menggunakan kapasitor besar.
Resistor merupakan komponen elektronika yang bersifat menahan arus listrik. Resistor dibagi menjadi dua kategori, yaitu: fixed resistor (tetap) dan variable resistor (berubah-ubah). Resistor yang terbuat dari dari karbon terdiri dari kode warna yang menunjukan besarnya nilai dari hambatan itu sendiri.

Diagram arus bolak-balik (garis hijau) dan arus searah (garis merah)
Di dalam bidang teknik kelistrikan dikenal adanya dua jenis arus yaitu arus bolak- balik dan arus searah.Dinamakan arus bolak balik karena padanya terjadi gerak electron yang berubah-ubah. Dengan ritme yang tetap, electron-elektron itu bergerak bolak-balik. Arus bolak-balik banyak memiliki aliran yang berbentuk sinus.
Gerak lengkap (bolak-balik) dinamakan satu periode.Jangka waktu satu periode adalah (t) detik (waktu periode).Banyaknya periode setiap detik dinamakan frekuensi,dimana satuan utuk frekuensi adalah Hertz (Hz).
            Arus bolak-balik terjadi karena tegangan bolak-bali.Suatu tegnagan bolak-balik juga mempunyai frekuensi, waktu periode, dan sebagainya.Arus bolak-balik ini merupakan yang palng banyak digunakan pada system kelistrikan di dunia, mengingat system ini mudah dalam pembangkitan dan pendistribusiannya.Pada tegangan bolak-balik, dikenal system satu fasa dan system tiga fasa dan yang paling dominan dipakai adalah system tiga fasa karena mempunyai kelebihan  disbanding dengan system satu fasa,dimana:
  • Daya yang disalurkan lebih besar
  • Nilai sesaatnya (Instantenous value) konstan
  • Mudah pembangkitannya (generator sinkron)
                                                                               
        Di dalam bidang teknik kelistrikan dikenal adanya dua jenis arus yaitu arus bolak- balik dan arus searah.Dinamakan arus bolak balik karena padanya terjadi gerak electron yang berubah-ubah. Dengan ritme yang tetap, electron-elektron itu bergerak bolak-balik. Arus bolak-balik banyak memiliki aliran yang berbentuk sinus.
T
 
Rangkaian Hambatan Murni merupakan Rangkaian hambatan yang suatu tegangannya bolak balik dengan bentuk gelombang sinusoida, seperti gambar dibawah ini :


 

Text Box: Vpp
b
 
Text Box: a                                                        Vp
T
 
                                                       

 tegangan bolak balik sinusoida

Tampak kekutuban tegangan berubah secara berkala. Periode T menyatakan beda waktu antara dua titik pada bentuk gelombang dengan fasa yang sama, seperti misalnya antara titik a dan b pada gambar diatas.Vp juga disebut tegangan puncak, Vpp disebut tegangan puncak ke puncak. Bentuk umumnya yaitu




KELEBIHAN DAN KELEMAHAN ARUS BOLAK-BALIK (AC)

            Tahun 1885, George Westinghouse, membuat paten untuk listrik arus bolak-balik (AC= Alternating Current). Listrik AC dibuat dari generator AC, dan dapat di “salurkan” ke tempat yang jauh dengan lebih murah dan mudah untuk di “sesuaikan”. Karena kemudahan ini lah selanjutnya orang lebih suka menggunakan listrik AC. Adapun kelemahan dari arus bolak balik yaitu beresiko dapat menyebabkan kebakaran.
            Resistor pada rangkaian arus bolak-balik (AC) sederhana secara langsung menahan aliran elektron pada setiap periode waktu, sehingga bentuk gelombang tegangan yang melewati resistor akan se-phasa dengan bentuk gelombang arus-nya. Lebih sederhana-nya, tegangan dan arus yang melewati pada rangkaian AC memiliki phasa yang sama. Jika digambarkan dalam diagram phasor, maka arus (I) ke arah sumbu 'X' positif (kanan) dan tegangan juga ke arah sumbu 'X' positif (kanan). Kedua gelombang tegangan dan arus se-phasa. Pada saat tegangan pada posisi positif, posisi titik “0” (Nol), maupun posisi negatif, arus juga berada pada posisi yang sama.

            induktor-pada-rangkaian-acReaktansi Induktif
Berbeda dengan rangkaian AC resitif dimana arus dan tegangan se-phasa, pada rangkaian AC induktif phasa tegangan mendahului 90° terhadap arus. Jika digambarkan diagram phasor-nya maka arus mengarah ke sumbu ‘X’ positif (kanan) dan tegangan mengarah ke sumbu ‘Y’ positif (atas) seperti yang diilustrasikan oleh gambar.
kurva-rangkaian-ac-induktif
Hambatan aliran elektron ketika melewati induktor pada rangkaian AC disebut sebagai ‘Reaktansi Induktif’, reaktansi dihitung dalam satuan Ohm (Ω) sama hal-nya seperti resistansi. Simbol reaktansi induktif adalah 'XL', pada rangkaian AC sederhana, reaktansi induktif dapat dihitung menggunakan persamaan berikut.

XL = 2 ∙ π ∙ f ∙ L

Dimana : XL = Reaktansi induktif (Ohm / Ω)
π= Pi ≈ 3,14
f= Frekuensi (Hertz / Hz)
L= Induktansi (Henry / H)









BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
III.1 ALAT DAN BAHAN
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
1.      RC dan RLC kit
RC kit digunakan untuk membuat rangkaian integrator. Sedangkan RLC kit digunakan untuk membuat rangkaian RLC.
RC kit ini sendiri terdiri dari resistor dan kapasitor, sedangkan RLC kit terdiri dari resistor, induktor, dan kapasitor.
                                                        



      Resistor                             Induktor                      Kapasitor

2.      Multimeter
Digunakan untuk mengetahui besarnya tegangan yang dihasilkan oleh catu daya, dan mengetahui nilai dari resistor dan inductor.



3.      Signal Generator
Digunakan sebagai pembangkit signal yang digunakan pada rangkaian.



4.      Catu daya
Digunakan sebagai pembangkit tegangan AC untuk dialirkan pada rangkaian.



5.      Kabel jumper
Digunakan untuk menghubungkan antara rangkaian dengan catu daya, signal generator, dan osiloskop.
       
6.      Osiloskop
Digunakan untuk mengamati sinyal output yang dihasilkan oleh rangkain setelah diberikan frekuensi tertentu.






III.2     PROSEDUR PERCOBAAN
III.2.1  Rangkaian Integrator
1.      Merangkai komponen resistor 10 KΩ dan kapasitor F pada papan rangkaian. Dimana resistor dan kapasitor disusun secara seri.
2.      Menghubungkan rangkaian dengan catu daya, dan multimeter
3.      Menghidupakan (meng-on kan) catu daya, dan multimeter.
4.      Mencatat nilai yang ditunjukkan oleh multimeter,
5.      Mengulangi langkah satu sampai empat deengan mengganti kapasitor yaitu kapasitor 0,33µF dan 2,2 µF.
III.2.2 Rangkaian Diferensiator
1.         Merangkai komponen resistor 10 KΩ dan kapasitor 0,47 µF  pada papan rangkaian. Dimana resistor dan kapasitor disusun secara seri.
2.      Menghubungkan rangkaian dengan catu daya, dan multimeter
3.      Menghidupakan (meng-on kan) catu daya, dan multimeter.
4.      Mencatat nilai yang ditunjukkan oleh multimeter,
5.      Mengulangi langkah satu sampai empat dengan mengganti kapasitor yaitu kapasitor 0,33µF dan 2,2 µF, dan resistor dengan 2 KΩ dan 3,5 KΩ.









BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 HASIL
1.      Rangkaian Integrator

No
Resistor(KΩ)
Kapasitor (µF)
Vin (Volt)
Vout (Volt)
1
10
0,47
3,8
1,8
2
10
0,33
3,8
2,2
3
10
2,2
3,8
0,2

2.   Rangkaian Diferensiator

No
Resistor (Ω)
Kapasitor (µF)
Vin (Volt)
Vout (Volt)
1
150
2,2
3,8
3,6
2
150
0,47
3,8
0,8
3
150
0,33
3,8
1

IV.2 PEMBAHASAN
            Dari hasil table di atas dapat  kita lihat bahwa:
Pada rangkaian integrator jika diberi resistor sebesar 10 kΩ dan kapasitor sebesar 0,47 µF, maka akan menghasilkan tegangan keluaran sebesar 1,8 V. dan jika diberi kapasitor sebesar 0,33 µF dan resistornya tetap, maka akan menghasilkan tegangan keluaran sebesar 2,2 V. dan pada kapasitor 2,2 µF resistor tetep pada 10 kΩ maka akan menghasilkan tegangan keluaran sebesar 0,2 V. hal ini dapat disimpulkan bahwa semakin besar nilai kapasitor yang diberikan pada resistor tetap  maka akan semakin kecil tegangan keluarannya, dan sebaliknya. Hal ini terjadi karena nilai C berbanding terbalik dengan tegangan keluaran V out, pada rangkaian integrator.
            Sedangkan pada rangkaian differensiator, jika diberi resistansi 10 kΩ dan kapasitor sebesar 2,2 µF akan menghasilkan tegangan keluaran sebesar 3,6 V. dan jika diberi resistansi 2 kΩ dan kapasitor 0,47 µF akan menghasilkan tegangan keluaran sebesar 0,8V. sedangkan pada resistansi 3,5 kΩ dan kapasitor 0,33 akan menghasilkan tegangan keluaran sebesar 1V. hal ini dapat disimpulkan bahwa semakin besar resistor yang diberikan maka akan semakin besar pula tegangan keluarannya, dan semakin besar kapasitor yang diberikan maka akan semakin kecil tegangan keluarannya. Tatapi pada table hasil percobaan di atas menunjukkan sedikit kesalahan, hal ini diakibatkan oleh pengamat yang kurang teliti atau biasa jga karena kesalahan alatnya.
















BAB V

PENUTUP

V.1 KESIMPULAN
            Berdasarkan hasil dari percobaan di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan seperti:
·         Nilai C berbanding terbalik dengan tegangan keluaran V out, pada rangkaian integrator.
·         Pada rangkaian differensiator nilai resistor berbanding lurus dengan nilai tegangan keluaran V out.
·         Arus bolak-balik (AC/alternating current) adalah arus listrik dimana besarnya dan arahnya arus berubah-ubah secara bolak-balik

V.2 SARAN
V.2.1 Laboratorium
            Ruangannya masih terlalu kecil untuk ditempati praktek. Alatnya juga sudah banyak yang rusak, kalau boleh diganti.
V.2.2 Asisten
·         Penguasaan materi sudah sangat bagus, ditingkatkan.
·         Kalau boleh, praktikan diberi kepastian kapan kumpul laporan.
·         Waktu respon diperpanjang lagi.










DAFTAR PUSTAKA